Penabalan Gelar Adat Bagi Bupati Dan Wakil Bupati Serta Pimpinan DPRD Merupakan Puncak Penghormatan dan Simbol Penyatu Masyarakat
Rohul - Pagi itu, Kamis (8/10/2026), udara di Pasir Pengaraian terasa penuh khidmat. Langkah kaki bersahut-sahutan mengiringi derap arak-arakan dari Bundaran Halaman Kantor Bupati Rokan Hulu menuju Balai Adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Rokan Hulu. Di balik riuh tepukan gendang dan kelincahan gerak pencak silat, ada tradisi luhur yang sedang dirajut kembali.
Penyerahan tepak sirih di depan pintu masuk balai adat oleh Ketum MKA dan DPH LAM Riau bersama Ketum MKA dan DPH LAM Rohul menjadi gerbang awal dimulainya prosesi sakral: Penabalan Gelar Adat bagi pucuk pimpinan Negeri Seribu Suluk.
?Di dalam Balai Adat yang megah, Raja-raja dari Lima Luhak beserta para pucuk suku adat se-Kabupaten Rokan Hulu dan jajaran Pimpinan OPD telah menanti. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Ketum MKA LAM Riau Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf, Ketum DPH LAM Riau Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, Ketua MKA LAM Rohul Datuk Seri Drs. H. Yusmar, M.Si Gelar Datuk Sulembang Rokan, hingga Ketua DPH LAM Rohul Datuk Seri H. Zulyadaini Gelar Datuk Saudagar Rajo menegaskan betapa bernilainya momen bersejarah ini.

?Dalam elu-eluannya, Ketua DPH LAM Rohul Datuk Seri H. Zulyadaini mengungkapkan apresiasi mendalam atas kepedulian pimpinan daerah terhadap LAM Rokan Hulu. Beliau menyampaikan dua amanah besar yang berhasil dicapai dengan baik:
-?Meskipun tanpa anggaran khusus untuk LAM Rokan Hulu, penabalan setia amanah sebelumnya tetap terlaksana dengan khidmat. Apalagi adanya anggaran dari Pemda.
-?Kebangkitan kembali eks kerajaan di Lima Luhak yang sebelumnya belum terekspos, padahal merupakan bagian tak terpisahkan dari struktur adat Melayu. "Alhamdulillah, keberadaan kelima eks kerajaan ini sudah kembali kita temukan dan tampilkan sebagaimana yang kita saksikan bersama," tegasnya.
?Selain itu, Ketua DPH LAM Rohul juga menekankan pentingnya pengembalian hak atas tanah adat di Lima Luhak yang saat ini telah memiliki sertifikat tanah adat di masing-masing Luhak.

?Atmosfer kian syahdu saat pembacaan Warkah Penabalan dilantunkan oleh Ketua MKA LAM Rohul Datuk Seri Drs. H. Yusmar, M.Si Gelar Datuk Sulembang Rokan. Satu per satu tanda kebesaran disematkan secara bergantian:
?Pemasangan Tanjak: Untuk Bupati Anton dipasangkan oleh Ketua DPH LAM Rohul Datuk Seri H. Zulyadaini, sedangkan untuk Wakil Bupati H. Syafaruddin Poti dipasangkan oleh Ketua MKA LAM Rohul Datuk Seri Drs. H. Yusmar.
?Pemasangan Selempang: Untuk Bupati disematkan oleh Ketum DPH LAM Riau Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, dan untuk Wakil Bupati oleh Ketum MKA LAM Riau Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf.
?Pemasangan Keris: Untuk Bupati dilakukan oleh Raja Luhak Rambah, sedangkan untuk Wakil Bupati disisipkan oleh Raja Luhak Kepenuhan.
?Dengan prosesi tersebut, gelar adat resmi disandang:
?Anton, ST, MM sebagai Datuk Seri Setia Amanah Baginda Jabaringin (Bupati Rokan Hulu).
?H. Syafaruddin Poti, SH, MM sebagai Datuk Timbalan Seri Setia Amanah Bijaksano Tuah Nogoi (Wakil Bupati Rokan Hulu).
?Hj. Sumiartini, SH sebagai Tuk Puan Setia Mufakat Siti Bestari Nogori (Ketua DPRD Rokan Hulu).
?Mohd Aidi, SH sebagai Datuk Timbalan Setia Mufakat Jalelo (Wakil Ketua DPRD Rokan Hulu).
?H. Porkot sebagai Datuk Timbalan Setia Mufakat Jonogori (Wakil Ketua DPRD Rokan Hulu).
?Usai ditabalkan, Bupati Rokan Hulu Anton, ST, MM Gelar Datuk Seri Setia Amanah Baginda Jabaringin menyampaikan rasa syukur mendalam atas kehormatan serta keikhlasan pemangku adat dalam menyematkan gelar tersebut. Dalam sambutannya, beliau menegaskan komitmennya untuk senantiasa menjadikan nilai-nilai adat Melayu, prinsip kemusyawaratan, serta ajaran agama sebagai kompas utama dalam memimpin dan membawa kemaslahatan serta keadilan bagi seluruh masyarakat Rokan Hulu.

?Gelar "Setia Amanah" dan "Setia Mufakat" yang disematkan bukanlah sekadar mahkota kehormatan pribadi, melainkan titipan mulia yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT, masyarakat, dan negeri. Amanah menggariskan keteguhan tanggung jawab, sementara mufakat menuntun langkah dalam mengambil keputusan melalui jalan kebersamaan.
?Kemeriahan dan kekhidmatan acara di kala memasuki penghujung ditutup dengan tradisi upah-upah serta prosesi tepung tawar. Percikan air setawar dingin mengiringi doa-doa terbaik yang dipanjatkan, memohon agar para pimpinan yang baru dikukuhkan senantiasa adil memimpin, bijak memutuskan, dan setia menjaga marwah Negeri Seribu Suluk.



Tulis Komentar